Minggu, 14 Juni 2015

PENYAKIT SOSIAL MEWARNAI BULAN KEBANGKITAN

adhinnews
(Refleksi Mei sebagai Bulan kebangkitan)
 oleh : Suradi

Sepanjang Mei 2015, Masyarakat Kota/Kabupaten Bima disuguhi beragam kasus sosial oleh sejumlah media cetak maupun media elektronik. Tertangkapnya Oknum Mahasiswi yang melakukan aborsi di sebuah Kos-kosan oleh Aparat bersama Masayarakat, Dibekuknya pelaku sekaligus pengedar narkoba Oleh aparat kepolisian, pencurian asset Kantor MUI Kota Bima, penculikan anak yang membuat geger para orang tua, peristiwa pembacokan Oknum Siswa yang berujung pada konflik antar kampung di Desa Kalampa dengan Desa Pandai yang berimbas pada diliburkannya Sekolah di daerah setempat, Perkelahian antar pemuda kelurahan tanjung dengan Kelurahan paruga, yang baru-baru ini telah melakukan ISLAH oleh kedua Tokoh Masyarakat. Dan masih banyak kasus sosial lainya tersuguh dengang sendirinya didepan mata kita, meskipun berbagai macam kasus ini hadir dengan Modusnya masing-masing, Tentu ini menjadi sebuah suguhan yang berlaku kontras dengan apa yang di galakkan pemerintah Kota dengan Slogan Kota Bima BERTEMAN (Bersih Tertib dan Aman) dan Kabupaten dengan Slogan Bima Membumikan Al-Qur’an.

Semakin maraknya tingkat kejahatan sosial di sekitar kita, Hal ini menandakan bahwa semakin rendahnya tingkat kewaspadaan kita terhadap mencuatnya berbagai macam kasus sosial ditengah masyarakat. disini kita dituntut untuk lebih meningkatkan lagi kewaspadaan kita terutama pada kalangan pemuda selaku generasi penerus Bangsa yang selalu menggaungkan Kebangkitan dan menggalakkan perubahan. Meskipun pemerintah sudah mengupayakan yang terbaik dengan berbagai macam program kemasyarakatan , belum tentu hasilnya juga bisa baik tanpa adanya kesadaran dari masyarakat itu sendiri.


Peran aparat keamanan juga menjadi factor penting dalam menangani dan memerangi penyakit sosial. Terutama Penegakan hukum, pengawasan, serta mengintensifkan penjagaan di daerah yang dianggap rawan terjadi kejahatan sosial. Tentunya dengan pola dan cara penedekatan yang jauh lebih diterima oleh kalangan masyarakat., Aparat keamanan bukan lagi hadir sebagai sosok hantu yang menakutkan untuk dimusuhi Oleh masyarakat, selama ini stigma inilah yang kemudian tertanam dalam sebagian besar mind set masyarakat bahwa dimana masyarakat dan aparat kemanan sering terjadi mis komunikasi. Sehingga apapun upaya yang dilakukan kurang begitu maksimal.

tontonan akhir mei, 2015 merupakan tindakan kekanak-kanakan aparat keamanan yang tidak selayaknya diperlihatkan dihadapan masyarakat. dimana antara aparat kemanan terjadi baku pukul dan saling serang. aparat keamanan yang selayaknya menegakkan aturan dan melarang masyarakat untuk berbuat kriminalisasi justru berbuat yang tidak seharusnya dilakukan oleh aparat sebagai perwujudan pelindung, pengayom dan pelayan bagi masyarakat. hal tersebut merupakan pukulan telak bagi penegakkan supremasi hukum khususnya diwilayah Kota maupun kabupaten bima pada umumnya. berharap kejadian tersebut tidak diulangi dan semoga dijadikan sebagai pemebelajaran  untuk kedepannya. 

Pemerintah adalah pelayan masyarakat, yang pada hakikatnya pelayan pasti bisa melayani. Layani dengan baik, tidak ada sekat tidak ada pembatasan yang melewati koridor etika antara masyarakat dengan pemerintah, Sebab keduanya adalah satu. Masyarakat juga diharapkan mampu menjaga ketertiban dan keamanan pada lingkungannya masing-masing, Budaya Gotong Royong perlu ditingkatkan lagi, tali silturahmi jangan sampai putus oleh hal – hal yang di anggap mencederai kebersamaan yang dibangun diatas pondasi Islam Rahmatan lil Alamin. Semoga. 


Tidak ada komentar: